Hiburan 

Nonton Bareng Memahami Perbedaan, Film ” Kucumbu Tubuh Indahku”

Nonton Bareng Memahami Perbedaan,
Film  “Kucumbu Tubuh Indahku”

Mitrajakartanews.com-Jakarta,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) selasa malam  (30/4), menyelenggarakan Nonton Bareng (Nobar) film Indonesia “Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho untuk pegawai Kemendikbud dan awak media di Plaza Senayan XXI, Jakarta.
Nobar ini bertujuan untuk merespon polemik dalam masyarakat karena dianggap mengandung konten yang sensitive.

Kegiatan nobar film Indonesia baik bersama masyarakat maupun khusus di lingkungan Kemendikbud merupakan kegiatan rutin Pusbangfilm sebagai bagian dari apresiasi, untuk film Kucumbu Tubuh Indahku ini kami mengadakan nobar internal khusus pegawai dan rekan wartawan” ujar Kepala Bidang Apresiasi, Tenaga Perfilman, dan Arsip Film,” Muhammad Sanggupri.

Garin Nugroho selaku sutradara mengungkapkan inspirasi film tersebut bersumber dari riset tentang Tari Lengger Lanang Banyumas tarian yang diperankan oleh penari laki-laki yang menarikan tarian perempuan, hingga Bissu di Sulawesi Selatan. “Selama tiga tahun, saya bersama penari dan koreografer terkemuka yakni, Rianto serta tim riset melakukan perjalanan riset sekaligus sebagai materi seni karya tari, salah satunya bertajuk Medium”.

Saya sendiri sebagai dramatunggal, karya film ini sudah berkeliling di duabelas kota dunia dan mendapat review koran terkemuka. Berfokus pada perjalanan tubuh Rianto bertema maskulin dan feminine.

Riset karya film ini berkeliling dari Banyumas hingga seni-seni tradisi Indonesia, kemudian setelah karya tari medium, melahirkan film Kucumbu Tubuh Indahku,” ujarnya.

“Melalui tema yang diangkat yaitu maskulin dan feminin, film ini banyak terinspirasi dari sebagian biografi Rianto dan beberapa penari yang sering mendapat diskriminasi dalam laku dan karyanya. Tegas sutradara yang juga ayah dari Kamila Andini, sutradara perempuan ternama Indonesia.
Lebih lanjut, Garin mendeskripsikan bahwa film ini menjadi nilai penting dalam membaca rasa trauma. Tubuh sejak lahir membawa trauma dan juga di dalam beragam kehidupan.

Trauma menjadi penting tidak saja pada tubuh personal, namun juga bangsa.

Trauma yang tidak mampu ditransformasikan secara produktif hanya akan melahirkan kekacauan dan kekerasan hidup. Maka, film ini juga memuat trauma politik hingga personal.
Khususnya melihat trauma Rianto yang justru dalam produktivitasnya menjadi karya-karya yang berkualitas.

Diharapkan melalui film ini, masyarakat dapat memahami tentang keberagaman pandangan dalam masyarakat dan menumbuhkan spirit culture diversity, yakni penghormatan hidup bersama dalam Nonton Bareng Memahami Perbedaan Film ” Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho untuk pegawai Kemendikbud dan awak media di Plaza Senayan XXI, Jakarta.
Nobar ini bertujuan untuk merespon polemik dalam masyarakat karena dianggap mengandung konten yang sensitive.

Kegiatan nobar film Indonesia baik bersama masyarakat maupun khusus di lingkungan Kemendikbud merupakan kegiatan rutin Pusbangfilm sebagai bagian dari apresiasi, untuk film Kucumbu Tubuh Indahku ini, kami mengadakan nobar internal khusus pegawai dan rekan wartawan” ujar Kepala Bidang Apresiasi, Tenaga Perfilma, dan Arsip Film, Muhammad Sanggupri.

Garin Nugroho selaku sutradara mengungkapkan inspirasi film tersebut bersumber dari riset tentang Tari Lengger Lanang Banyumas tarian yang diperankan oleh penari laki-laki yang menarikan tarian perempuan, hingga Bissu di Sulawesi Selatan. “Selama tiga tahun, saya bersama penari dan koreografer terkemuka yakni, Rianto serta tim riset melakukan perjalanan riset sekaligus sebagai materi seni karya tari, salah satunya bertajuk Medium”. Saya sendiri sebagai dramatunggal, karya ini sudah berkeliling di duabelas kota dunia dan mendapat review koran terkemuka. Berfokus pada perjalanan tubuh Rianto bertema maskulin dan feminine. Riset karya ini berkeliling dari Banyumas hingga seni-seni tradisi Indonesia, kemudian setelah karya tari medium, melahirkan film Kucumbu Tubuh Indahku,” ujarnya.

“Melalui tema yang diangkat yaitu maskulin dan feminin, film ini banyak terinspirasi dari sebagian biografi Rianto dan beberapa penari yang sering mendapat diskriminasi dalam laku dan karyanya, tegas sutradara yang juga ayah dari Kamila Andini, sutradara perempuan ternama Indonesia.

Lebih lanjut, Garin mendeskripsikan bahwa film ini menjadi nilai penting dalam membaca rasa trauma. Tubuh sejak lahir membawa trauma dan juga dalam beragam kehidupan.

Trauma menjadi penting tidak saja pada tubuh personal , namun juga bangsa. Trauma yang tidak mampu ditransformasikan secara produktif hanya akan melahirkan kekacauan dan kekerasan hidup. Maka, film ini juga memuat trauma politik hingga personal. Khususnya melihat trauma Rianto yang justru dalam produktivitasnya menjadi karya-karya yang berkualitas. Diharapkan melalui film ini, masyarakat dapat memahami tentang keberagaman pandangan dalam masyarakat dan menumbuhkan spirit culture diversity, yakni penghormatan hidup bersama dalam keberagaman secara damai dan produktif tanpa kekerasan, persekusi dan diskriminasi dengan penghormatan beragam perbedaan.
(Red).

Related posts

Leave a Comment

www.000webhost.com